BBM di SPBU Swasta Masih Langka, Antrean Panjang di Pertamina Terus Mengular

 


Antrean SPBU di Tugu Pawbili, KM 18 Sorong. (Sumber: radarsorong.id).

JAKARTA – Kelangkaan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta masih berlanjut hingga pekan keempat bulan September. Kondisi ini menyebabkan antrean kendaraan yang signifikan di hampir seluruh SPBU milik Pertamina, terutama di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Para pengendara mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar di SPBU non-pemerintah seperti Shell, BP-AKR, dan Vivo.

Pantauan di beberapa lokasi di Jakarta Selatan pada Kamis (18/9/2025) menunjukkan banyak SPBU swasta yang memasang papan pengumuman "BBM Habis" atau menutup akses ke pompa pengisian bahan bakar jenis bensin. Akibatnya, para pengendara, baik roda dua maupun roda empat, tidak punya pilihan selain beralih ke SPBU Pertamina terdekat. Hal ini menciptakan penumpukan kendaraan yang mengular hingga ke badan jalan dan menambah kemacetan lalu lintas pada jam-jam sibuk.

"Sudah tiga SPBU Shell yang saya datangi dari Bintaro sampai Fatmawati, semuanya kosong. Petugasnya bilang pasokan belum datang," keluh Budi Santoso (45), seorang karyawan swasta yang ditemui saat sedang mengantre di SPBU Pertamina Duren Tiga. "Akhirnya harus antre di sini, sudah hampir 30 menit. Waktu jadi terbuang di jalan hanya untuk mencari bensin."

Kondisi ini ironisnya terjadi di tengah stabilitas harga. Sebagaimana dilansir oleh kantor berita Antaranews.com, harga jual BBM di tingkat konsumen untuk semua operator, termasuk Pertamina, Shell, dan BP, terpantau tidak mengalami perubahan. Fenomena ini menegaskan bahwa masalah yang terjadi saat ini bukanlah soal harga, melainkan soal ketersediaan pasokan di level hilir, khususnya bagi para pemain swasta.

Pemerintah Tegaskan Tidak Buka Keran Impor

Di tengah kelangkaan yang dirasakan masyarakat, pemerintah mengambil sikap tegas. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pemerintah tidak akan membuka keran impor BBM untuk mengatasi kekurangan pasokan di SPBU swasta. Menurutnya, kebijakan pengendalian impor diperlukan untuk menjaga neraca perdagangan dan stabilitas ekonomi nasional.

Dalam sebuah laporan yang dimuat Money.Kompas.com pada 16 September lalu, Bahlil menegaskan bahwa prioritas pemerintah saat ini adalah memaksimalkan produksi dalam negeri dan peran Pertamina sebagai BUMN di sektor energi. "BBM masih langka di SPBU swasta, (tapi) Bahlil tegaskan keran impor tidak dibuka," demikian kutipan dari laporan tersebut.

Sikap pemerintah ini menimbulkan dilema. Di satu sisi, langkah pengendalian impor bertujuan baik untuk ekonomi makro. Namun di sisi lain, dampaknya kini dirasakan langsung oleh konsumen yang kesulitan mendapatkan bahan bakar dan harus menanggung inefisiensi akibat antrean panjang. Para pengemudi ojek online adalah salah satu kelompok yang paling terdampak, karena waktu yang terbuang untuk mencari BBM berarti kehilangan potensi pendapatan.

"Kalau begini terus, pendapatan pasti turun. Waktu buat cari order habis buat antre bensin," ujar Rian, seorang pengemudi ojek online. "Kami harap pemerintah dan perusahaan swasta ini bisa cepat cari solusi. Kalau langka begini, yang susah kami di jalan."

Penyebab Kelangkaan Masih Simpang Siur

Hingga saat ini, penyebab pasti dari kelangkaan pasokan di SPBU swasta belum diumumkan secara resmi oleh para operator. Namun, beberapa pengamat energi menduga masalah ini berkaitan dengan kendala dalam rantai pasok global atau adanya penyesuaian kuota impor yang belum sinkron dengan permintaan riil di lapangan.

Ketergantungan SPBU swasta pada BBM impor membuat mereka sangat rentan terhadap gejolak pasokan global dan perubahan kebijakan impor nasional. Saat pasokan mereka terhambat, Pertamina sebagai BUMN dengan infrastruktur yang lebih mapan dari hulu ke hilir, secara otomatis menjadi satu-satunya tumpuan bagi masyarakat.

Situasi ini sekali lagi menunjukkan betapa krusialnya ketahanan energi nasional. Ketika operator swasta mengalami kendala, Pertamina harus menanggung beban permintaan yang melonjak drastis. Para ahli berharap kejadian ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali kebijakan energi jangka panjang, termasuk keseimbangan antara peran BUMN dan swasta serta strategi pengelolaan impor BBM yang lebih adaptif.

Untuk sementara waktu, para pengendara diimbau untuk tidak melakukan pembelian panik (panic buying) dan mengisi bahan bakar secukupnya. Masyarakat berharap agar pasokan di SPBU-SPBU swasta dapat segera kembali normal sehingga antrean di SPBU Pertamina dapat terurai dan aktivitas warga tidak lagi terganggu oleh kelangkaan bahan bakar.

0 Comments

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post